Ilmu Pengetahuan dan Ideologi
Ideologi dan Pengetahuan merupakan dua entitas yang sering disandingkan, namun dengan berbagai bentuk yang berbeda. Di satu pihak ideologi dianggap sebagai antitesis pengetahuan, sementara di pihak lain dianggap sebagai sebentuk pengetahuan. Pada pihak pertama ideologi dianggap sebagai bukan pengetahuan, karena sarat dengan unsur subyektifitas individu atau pun kelompok. Sedang di pihak yang lain ideologi adalah pengetahuan itu sendiri.
Perbedaan antara konsep ideologi dan ilmu pengetahuan dapat diterangkan dengan dua cara yang berbeda yaitu :
Pertama, ideologi dapat dipandang sebagai kesalahan kognitif semata-mata. Hubungan antara ilmu pengetahuan adalah kebalikan antara kebenaran dan kesalahan. Ideologi dan ilmu pengetahuan menerima ciri-ciri yang berlawanan yang tidak dapat dipertahankan satu sama lain. Ilmu pengetahuan mencakup semacam kognisi yang sama sekali berbeda dari kognisi ideologi. Perbedaan antara kedua konsep ini meliputi perbedaan kualitatif yang memperkenankan ilmu pengetahuan mengatasi ideologi.
Kedua, ideologi dapat diinterpretasikan berbeda dari ilmu pengetahuan, meski bukan antitesisnya. Kendati perbedaan itu tidak mungkin membuat ilmu pengetahuan dapat mengatasi ideologi, karena ideologi berakar dalam kontradiksi sosial. Ideologi tidak hanya kesalahan kognitif yang dapat diatasi oleh kognisi yang berlebihan. Ilmu pengetahuan juga tidak menghabiskan konsep kebenaran. Ada kesalahan yang tidak ideologis, dan ada kebenaran yang mungkin didapatkan diluar kognisi masyarakat yang benar-benar seperti keadaannya. Kekhasan kesalahan ideologi itu adalah kenyataan bahwa ideologi menyembunyikan kontradiksi. Kebenaran satu-satunya yang mungkin berhasil mengalahkan kesalahan tertentu ini adalah penyelesaian kontradiksi. Ideologi tidak dapat diusir dengan sarana teori yang sederhana. Karena akar-akarnya berada di luar perbatasan kesalahan yang semata-mata intelektual.
Untuk lebih jelas perbedaan antara ilmu pengetahuan dan ideologi dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan diperoleh dari pengalaman (emperi) dan dari akal (ratio). Sehingga timbul faham atau aliran yang disebut empirisme dan rasionalisme. Aliran empirisme yaitu faham yang menyusun teorinya berdasarkan pada empiris atau pengalaman. Sedang rasionalisme menyusun teorinya berdasarkan ratio. Metode yang digunakan aliran emperisme adalah induksi, sedang rasionalisme menggunakan metode deduksi. Immanuel Kant adalah tokoh yang mensintesakan faham empirisme dan rasionalisme.
Ilmu pengetahuan mencakup segala bidang serta segala aspek kehidupan manusia, segala yang ada maupun peristiwa yang terjadi. Ilmu pengetahuan memiliki kekhususan dalam hal memperoleh tingkat kualitas pengetahuan yang lebih dari pada pengetahuan biasa sehari-hari. Dalam rangka memperoleh pengetahuan yang lebih jelas (clearly), lebih rinci (distingly), serta lebih dapat diandalkan kebenarannya, ilmu pengetahuan (pengetahuan ilmiah) berusaha menggunakan pendekatan, sudut pandang, cara dan langkah-langkah yaang jelas dalam menyelidiki obyek yang menjadi kajiannya, menggunakan akal pikir (rasio) untuk berpikir secara optimal(rasional) yaitu perlu berpikir kritis (terarah pada kebenaran sesungguhnya), berpikir logis (menggunakan kaidah penalaran yang lurusdan masuk akal), serta berpikir sistimatis (mengggunakan kerangka pemikiran yang memiliki keterkaitan logis satu sama lain).
Ilmu pengetahuan lebih cenderung mengusahakan pengetahuan terarah pada bidang-bidang tertentu, dengan melakukan cara-cara tertentu, dan menggunakan pendekaan serta sudut pandang secara tertentu pula. Ilmu pengetahuan dapat dipahami sebagai keseluruhan ilmu pengetahuan, yang diusahakan secara rasional (kritis, logis, dan sistimatis) obyektif dan metodis (Paulus Wahana, 2010).
Ilmu pengetahuan: sifatnya taat fakta, objektif dan ilmiah, maka filsafat sifatnya mempertemukan berbagai aspek kehidupan di samping membuka dan memperdalam pengetahuan. Ilmu pengetahuan: objeknya dibatasi, misalnya psikologi objeknya dibatasi pada perilaku manusia saja, filsafat objeknya tidak dibatasi pada satu bidang kajian saja dan objeknya dibahas secara filosofis atau reflektif rasional, karena filsafat mencari apa yang hakikat. Ilmu pengetahuan: tujuannya memperoleh data secara rinci untuk menemukan pola-polanya, maka filsafat tujuannya mencari hakiki.
Ilmu pengetahuan sesungguhnya hanyalah merupakan hasil atau produk dari sesuatu kegiatan yang dilakukan oleh manusia. Kegiatan tersebut tidak dilakukan sembarang atau asal-asalan, melainkan suatu proses atau serangkaian aktivitas dengan menggunakan suatu metode (cara) teratur guna memperoleh pengetahuan yang objektif dan dapat diperiksa kebenarannya.
Ciri-ciri Ilmu Pengetahuan Ilmiah menurut A.M. Heru Basuki (2006 : 12 -16) sebagai berikut :
1) Sistematis.
Ilmu pengetahuan ilmiah bersifat sistematis artinya ilmu pengetahuan ilmiah dalam upaya menjelaskan setiap gejala selalu berlandaskan suatu teori. Atau dapat dikatakan bahwa teori dipergunakan sebagai sarana untuk menjelaskan gejala dari kehidupan sehari-hari.
Ciri-ciri yang sistematis dari ilmu pengetahuan ilmiah menurut Noerhadi T. H. (1998) sebagai berikut :
a) Persepsi sehari-hari (bahasa sehari-hari). Dari persepsi sehari-hari terhadap fenomena atau fakta yang biasanya disampaikan dalam bahasa sehari-hari diobservasi agar dihasilkan makna. Dari observasi ini akan dihasilkan konsep ilmiah;
b) Observasi (konsep ilmiah). Untuk memperoleh konsep ilmiah atau menyusun konsep ilmiah perlu ada definisi. Terdapat dua jenis definisi, yaitu: definisi sejati, dan definisi nir-sejati; c) Hipotesis. Dari konsep ilmiah yang merupakan pernyataan-pernyataan yang mengandung informasi, dua pernyataan digabung menjadi proposisi. Proposisi yang perlu diuji kebenarannya disebut hipotesis;
c) Hukum. Hipotesis yang sudah diuji kebenarannya disebut dalil atau hukum;
d) Teori. Keseluruhan dalil-dalil atau hukum-hukum yang tidak bertentangan satu sama lain serta dapat menjelaskan fenomena disebut teori.
Ciri ilmu pengetahuan tersebut di atas dapat digambarkan dengan piramida ilmu pengetahuan ilmiah sebagai berikut :
2) Dapat dipertanggungjawabkan.
Ilmu pengetahuan ilmiah dapat dipertanggungjawabkan melalui 3 (tiga) macam sistem, yaitu:
• Sistem axiomatis : Sistem ini berusaha membuktikan kebenaran suatu fenomena atau gejala sehari-hari mulai dari kaidah atau rumus umum menuju rumus khusus atau konkret. Atau mulai teori umum menuju fenomena/gejala konkret. Cara ini disebut deduktif-nomologis. Umumnya yang menggunakan metode ini adalah ilmu-ilmu formal, misalnya matematika.
• Sistem empiris : Sistem ini berusaha membuktikan kebenaran suatu teori mulai dari gejala/ fenomena khusus menuju rumus umum atau teori. Jadi bersifat induktif dan untuk menghasilkan rumus umum digunakan alat bantu statistik. Umumnya yang menggunakan metode ini adalah ilmu pengetahuan alam dan sosial.
• Sistem semantik/linguistik : Dalam sistem ini kebenaran didapatkan dengan cara menyusun proposisi-proposisi secara ketat. Umumnya yang menggunakan metode ini adalah ilmu bahasa (linguistik).
3) Objektif atau intersubjektif
Ilmu pengetahuan ilmiah itu bersifat mandiri atau milik orang banyak (intersubjektif). Ilmu pengetahuan ilmiah itu bersifat otonom dan mandiri, bukan milik perorangan (subjektif) tetapi merupakan konsensus antar subjek (pelaku) kegiatan ilmiah. Dengan kata lain ilmu pengetahuan ilmiah itu harus ditopang oleh komunitas ilmiah.
b. Ideologi
Menurut C.A.Van Peursen (1985) dalam buku “susunan ilmu pengetahuan” mengatakan ideologi dalam arti luas yaitu seperangkat ide yang bersifat mengarahkan. Maka istilah ideologi tidak perlu berarti negatif. Ada ideologi yang benar dan yang keliru. Ada beberapa macam ideologi atau ide yang menonjol : agawai, metafisi, susila, sosial, dan politis.
Ideologi adalah salah satu dari tiga momen atau level primer suatu formasi sosial. Sebagai sebuah level primer, ideologi relatif otonom terhadap level-level lain (misalnya ekonomi), meskipun ia pada momen terakhir, tetap dideterminasi oleh ekonomi. Disini ideologi, yang merupakan suatu sistem (dengan logika dan ketegangannya sendiri) representasi (citra, mitos, gagasan-gagasan, atau konsep-konsep), dipahami sebagai suatu praktik yang dijalani dalam hidup dan mengubah dunia material.
Menurut Althusser, ada empat aspek tentang ideologi yaitu: 1) fungsi umum ideologi adalah mengonstitusi subyek; 2) ideologi sebagai sesuatu yang dialami tidak palsu; 3) ideologi sebagai pemahaman yang salah tentang konsulidasi eksistensi yang sebenarnya adalah palsu; 4) ideologi berperan dalam reproduksi formasi-formasi sosial dan relasi-relasinya dengan kekuasaannya.
Ideologi memiliki dua wajah, pertama ideologi membentuk kondisi-konsisi nyata kehidupan manusia, membentuk pandangan dunia yang dipakai orang untuk hidup dan mengalami dunia. Dalam pengertian ini ideologi tidak palsu karena ia membentuk kategori-kategori dan sistem-sistem representasi yang digunakan oleh kelompok sosial untuk memahami dunia. Ideologi adalah sesuatu yang dialami dalam kehidupan sehari-hari; kedua ideologi dipahami sebagai perangkat makna lebih luas memahami dunia (atau sebuah wacana ideologis) dengan cara tertentu sehingga menghasilkan pengertian dan representasi yang salah tentang kekuasaan dari relasi kelas.
Marx mengonsepsikan ideologi sebagai segala bentuk kesadaran yang meliputi teori tentang pengetahuan, politik, metafisika, etika, dan agama, yang mengungkapkan sikap atau komitmen mendasar suatu kelas sosial. Jika kita dapat menganalisa gagasan-gagasan dan sensasi-sensasi dalam cara yang sistematis, kita dapat memberikan basis yang kokoh terhadap semua ilmu pengetahuan dan menarik kesimpulan dari lebih banyak ragam praktik.
Larrain yang menyelidiki konsepsi ideologi dari Marx sampai strukturalisme modern memiliki dua bentuk: Ideologi dalam arti positif berkenaan dengan sistem pendapat, nilai dan pengetahuan yang berhubungan dengan nilai kognitif yang bervariasi. Distorsi bukan esensi dan konsep ideologi. Dengan begitu mungkin ada ideologi yang didasarkan pada pendapat ilmiah dan yang didasarkan pada dugaan pra-ilmiah atau non-ilmiah. ideologi bukan konsep yang dibedakan dari ilmu pengetahuan. Ideologi bukan antitesis dari ilmu pengetahuan. Ideologi dalam arti negatif, ideologi dibedakan dari ilmu pengetahuan. Ideologi adalah pengetahuan yang diputar-balik, sedang ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang benar.
Sedangkan Franz Magnis mengelompokkan ideologi dalam berbagai arti antara lain :
Pertama, ideologi sebagai kesadaran palsu. Secara spontan bagi kebanyakan orang ideologi mempunyai konotasi negatif, sebagai klaim yang tidak wajar, atau sebagai teori yang tidak berorientasi pada kebenaran, melainkan pada kepentingan pihak yang mempropagandakannya. Minimal ideologi dianggap sebagai sistem berpikir yang terkena distorsi, entah dengan disadari atau tidak. Biasanya ideologi sekaligus dilihat sebagai sarana kelas atau kelompok yang berkuasa untuk melegitimasikan kekuasaannya secara tidak wajar.
Kedua, ideologi dalam arti netral. Ideologi dimaksudkan sebagai keseluruhan sistem berpikir, nilai-nilai, dan sikap-sikap dasar rohani sebuah gerakan, kelompok sosial atau kebudayaan. Dalam arti ini baik dan buruk nilai ideologi tergantung isinya: kalau isinya baik, ideologi itu baik; kalau isinya buruk, ideologi itu buruk.
Ketiga, ideologi sebagai keyakinan yang tidak ilmiah. Dalam filsafat dan ilmu-ilmu sosial yang berhaluan positivistik, segala pemikiran yang tidak dapat diuji secara matematis-logis atau empiris disebut ideologi. Jadi segala penilaian etis dan moral, anggapan-anggapan normatif, begitu pula teori-teori dan paham-paham metafisik dan keagamaan atau filsafat dan sejarah, termasuk ideologi. Arti ketiga ini maunya netral, tapi sebenarnya bernada negatif juga karena memuat sindiran bahwa ideologi-ideologi itu tidak rasional, di luar hal nalar, jadi merupakan hal kepercayaan dan keyakinan subyektif semata-mata, tanpa kebenaran, tanpa kemungkinan untuk mempertanggung jawabkan secara obyektif.
Bahan Bacaan
A.M. Heru Basuki. 2006. Penelitian Kualitatif untuk Ilmu-ilmu Kemanusiaan dan Budaya.
Budisutrisna, 2006. Teori Kebenaran Pancasila sebagai Dasar Pengembangan Ilmu. Jurnal Filsafat. Vol. 16 Nomor , April 2006. Yogyakarta : Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada.
C.A. Van Peursen (1985). Susunan Ilmu Pengetahuan : Sebuah Pengantar Filsafat Ilmu. (diterjemahkan oleh : J. Drost). Jakarta : PT. Garmedia.
C. Verhaak dan R. Haryono Imam. 1989. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Jakarta : PT. Gramedia.
Cuk Ananta Wijaya, 2006. Ilmu dan Agama dalam Perspektif Filsafat Ilmu. Junal Filsafat. Vol. 16, Nomor 2, Agustus 2006.
Depdikbud, 1992. Kongres Kebudayaan 1991 : Kebudayaan Nasional : Kini dan di Masa Depan. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Direktoral Sejarah dan Nilai Tradisonal Proyek Penelitian Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Buadaya 1992/1993.
Djumransjah, 2006. Filsafat Pendidikan. Jatim : Bayumedia Publishing.
Geerts, Clifford, 1992. Tafsir Kebudayaan. Yogyakarta : Kanisius
.
Hempel, Carl G., 1996. Philosophy of Natural Science, Prentice-Hall Inc., New Jersey
Jalaluddin dan Abdullah Idi, 2007. Filsafat Pendidikan : Manusia, Filsafat dan Pendidikan. Yogyakarta : Ar-Ruzz Media Group.
Jujun S. Suriasumantri, 2009. Ilmu dalam Perspektif (sebuah kumpulan karangan tentang hakekat ilmu). Jakarta : Yayaran Obor Indonesia.
J. Sudarminta, 2010, Postmodernisme dan Komersialisasi Pendidikan Tinggi (Dua Tantangan Pendidikan Bagi Perguruan TinggiKatolik di Era Global) dapat diakses melalui http://www.aptik.or.id/artikel/postmodernisme-dan-komersialisasi-pendidikan-tinggi
Kemeny, John. G., 1959. A. Philosopher Looks at Science, Van Nostrand Reinhold Company, New York.
Nurani Soyomukti, 2010. Teori-teori Pendidikan : Tradisional, (Neo) Liberal, Marxis-Sosialis, Postmodern. Yogyakarta : Ar-Ruzz Media Group.
M. Sastrapratedja, SJ. 2011. Epistemologi Kultural. Bahan kuliah mata kuliah Epistemologi Program Doktor Ilmu Pendidikan Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta.
_________________. 2011. Sejarah Filsafat Kontemporer : Poststrukturalisme dan Postmodernisme. Bahan kuliah mata kuliah Epistemologi Program Doktor Ilmu Pendidikan Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta.
_________________. 2011. Postmodernismedan Multikulturalisme dalam Pendidikan. Bahan kuliah mata kuliah Epistemologi Program Doktor Ilmu Pendidikan Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta.
Paulus Wahana, 2010. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta : Pustaka Diamond.
Sutari Imam Barnadib, 1995. Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis. Yogyakarta : Andi Offset..
Sutari Imam Barnadib dan Imam Barnadib, 1996. Beberapa Aspek Substansial Ilmu Pendidikan Sistematis. Yogyakarta : Andi Offset.
Suparlan suhartono, 2005. Filsafat Ilmu Pengetahuan : Persoalan Eksistensi dan Hakekat Ilmu Pengetahuan, Yogyakarta : Ar-Ruzz Media Group.
Yohanes P. Wisok, 2009. Etika mengalami krisis, Membangun pendirian. Bandung : Jendelas Mas Pustaka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar