Rabu, 18 April 2012

Proses pembentukan Ilmu

Ilmu ialah suatu uraian yang tersusun secara lengkap tentang salah satu segi serta mempunyai sifat yang logis, diskusif dan reflektif. (Surati Imam Barbadib, 1995 : 19). Ilmu merupakan salah satu hasil dari usaha manusia untuk memperadab dirinya. Ketika manusia merenung dalam-dalam tentang apa artinya menjadi seorang wanita, secara lambat laun mereka sampai pada kesimpulan bahwa mengetahui kebenaran adalah tujuan utama dari manusia (Jujun S. Suriasumantri, 2009 : 110).
Menurut Paulus Wahana (2010 : 54) bahwa ilmu senantiasa berarti pengetahuan (knowledge). Ilmu adalah sesuatu kumpulan yang sistimatis dari pengetahuan (any systimatic body of knowledge).
Pengetahuan (knowledge) itu lain dengan ilmu (science) namun demikian pengetahuan dapat ditingkatkan menjadi ilmu, asalkan memenuhi syarat ilmiah. Sehingga ilmu itu merupakan kumpulan pengetahuan yang memiliki syarat ilmiah yakni Objek, sistematik, metodik, dan berlaku universal. (Budisutrisna, 2010 : 60).
Ilmu pengetahuan sesungguhnya hanyalah merupakan hasil atau produk dari sesuatu kegiatan yang dilakukan oleh manusia. Namun kegiatan manusia yang menghasilkan suatu produk yang dinamakan ilmu pengetahuan, kiranya bukan sembarang kegiatan dan dengan cara yang asal-asalan, melainkan suatu proses atau serangkaian aktivitas yang dilakukan manusia dengan menggunakan suatu metode (cara) teratur guna memperoleh pengetahuan yang objektif dan dapat diperiksa kebenarannya.
Ciri-ciri Ilmu Pengetahuan Ilmiah menurut A.M. Heru Basuki (2006 : 12 -16) sebagai berikut :
1) Sistematis.
Ilmu pengetahuan ilmiah bersifat sistematis artinya ilmu pengetahuan ilmiah dalam upaya menjelaskan setiap gejala selalu berlandaskan suatu teori. Atau dapat dikatakan bahwa teori dipergunakan sebagai sarana untuk menjelaskan gejala dari kehidupan sehari-hari. Tetapi teori itu sendiri bersifat abstrak dan merupakan puncak piramida dari susunan tahap-tahap proses mulai dari persepsi sehari-hari/ bahasa sehari-hari, observasi/konsep ilmiah, hipotesis, hukum dan puncaknya adalah teori.



Ciri-ciri yang sistematis dari ilmu pengetahuan ilmiah tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:







Gambar : Piramida Ilmu Pengetahuan Ilmiah
Sumber : Noerhadi T. H. (1998) Diktat Kuliah Filsafat Ilmu Pengetahuan.
Pascasarjana Universitas Indonesia.
2) Dapat dipertanggungjawabkan.
Ilmu pengetahuan ilmiah dapat dipertanggungjawabkan melalui 3 (tiga) macam sistem, yaitu:
a) Sistem axiomatis
Sistem ini berusaha membuktikan kebenaran suatu fenomena atau gejala sehari-hari mulai dari kaidah atau rumus umum menuju rumus khusus atau konkret. Atau mulai teori umum menuju fenomena/gejala konkret. Cara ini disebut deduktif-nomologis. Umumnya yang menggunakan metode ini adalah ilmu-ilmu formal, misalnya matematika.
b) Sistem empiris
Sistem ini berusaha membuktikan kebenaran suatu teori mulai dari gejala/ fenomena khusus menuju rumus umum atau teori. Jadi bersifat induktif dan untuk menghasilkan rumus umum digunakan alat bantu statistik. Umumnya yang menggunakan metode ini adalah ilmu pengetahuan alam dan sosial.
c) Sistem semantik/linguistik
Dalam sistem ini kebenaran didapatkan dengan cara menyusun proposisi-proposisi secara ketat. Umumnya yang menggunakan metode ini adalah ilmu bahasa (linguistik).

3) Objektif atau intersubjektif
Ilmu pengetahuan ilmiah itu bersifat mandiri atau milik orang banyak (intersubjektif). Ilmu pengetahuan ilmiah itu bersifat otonom dan mandiri, bukan milik perorangan (subjektif) tetapi merupakan konsensus antar subjek (pelaku) kegiatan ilmiah. Dengan kata lain ilmu pengetahuan ilmiah itu harus ditopang oleh komunitas ilmiah.
Cara Kerja Ilmu Pengetahuan Ilmiah
Cara kerja Ilmu Pengetahuan Ilmiah untuk mendapatkan kebenaran oleh Karl Popper disebut Siklus Empiris sebagai berikut :















Gambar : Siklus Empiris
Sumber: Noerhadi T. H. (1998) Diktat Kuliah Filsafat Ilmu Pengetahuan.
Pascasarjana Universitas Indonesia.
Setiap ilmu harus memiliki objek, baik formal maupun materil, satu ilmu harus bersistem artinya harus merupakan satu kesatuan yang bulat dan utuh. Setiap ilmu memiliki metode sendiri-sendiri sebagai syarat ilmiah yang merupakan satu proses. Metode ilmiah merupakan cara dalam mendapatkan pengetahuan secara ilmiah, dengan kata lain pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan metode ilmiah. Metode ilmiah dalam proses untuk menemukan pengetahuan yang dipercayai terdiri atas beberapa langkah tertentu yang kait mengait satu dengan yang lain secara dinamis (Budisutrisna, 2006 : 60).
Sedangkan menurut Paulus, Metode ilmiah merupakan cara kerja pikiran yang menghasilkan pengetahuan yang memiliki karakteristik tertentu sebagai pengetahuan ilmiah yaitu bersifat rasional (rasionalisme) dan teruji secara empiris dalam pengelaman kehidupan (empiris) sehingga memungkinkan tubuh pengetahuan yang disusunya merupakan pengetahuan yang dapat diandalkan. Secara rasional maka ilmu menyusun pengetahuannya secara konsisten dan kumulatif.emperoleh pengetahuan yang sesuai dengan fakta. Dalam usaha memperoleh pengetahuan, orang dapat memperoleh secara apoteriori yaitu mengetahui berdasarkan apayang ditemukan secara aktual di dunia melalui panca indera, dan dapat juga memperolehnya secara apriori yaitu mengetahui dengan mengenakan sebab musabab pada realitas itu. Mengetahui secara apriori adalah dengan memahami apa yang menjadi sebabnya, apa yang menimbulkan dan memungkinkan hal itu ada atau terjadi.
Menurut C.A. Van Peursen (1985 : 16), ciri ilmu mempergunakan metode. Metode berarti bahwa penyelidikan berlangsung menurut suatu rencana tertentu. Metode ilmiah mengadakan penataan data sebelum ditata biasanya merupakan tumpukan yang kacau balau. Selain itu ilmu adalah penyempadanan (pembatasan) prosedur-prosedur yang dapat membimbing penelitian menurut arah tertentu.
Langkah-langkah Metode ilmiah menurut Abbas Hamami Mintaredja (1997) dalam Budisutrisna (2010 :62) meliputi
Pertama : Penentuan masalah merupakan kegiatan yang secara sadar menetapkan masalah yang akan ditelaah dengan ruang lingkup dan batasnya. Tanpa kejelasan ini akan ditemukan kesukaran dalam langkah selanjutnya.
Kedua : Penetapan kerangka masalah, mendeskripsikan masalah secara lebih jelas. Dalam langkah ini dideskripsikan berbagai faktor yang terlibat dalam msalah tersebut. Faktor itu membentuk satu kerangka msalah yang berwujud gejalan yang sedang ditelaah.
Ketiga : Perumusan hipotesis, kegiatan ini merupakan usaha untuk memberikan penjelasan sementara tentang hubungan sebab akibat yang mengikat faktor yang membetnuk kerangka masalah yang dihadapi sebagaimana yang dirumuskan sebelumnya.
Keempat : Verifikasi hipotesis, kegiatan inimerupakan usaha mengumpulkan fakta atau data sebagaimana yang dihadapi dalam masalah. Akhirnya hipotesis yang telah terbukti kebenarannya merupakan pengetahuan baru dan diterima sebagai bagian dari ilmu. Bahkan masuk sebagai teori ilmiah.
Kelima : Teori ilmiah merupakan bagian dari satu ilmu karena teori itu merupakan penemuan baru dari penelitian yang secara cermat sudah terbukti kebenarannya.
Kebenaran dalam ilmu adalah kebenaran yang bersifat objektif maksudnya betul-betul didukung oleh fakta kenyataan. Dalam proses mencapai kebenaran, ilmu tidak hanya memakai teori kebenarana korenspondensi saja melalalui pemikiran empirisnya tetapi juga menerapkan teori kebenaran koherensi melalui pemikiran rasionalnya seperti yang telah diuraikan sebelumnya.
Kebenaran ilmiah muncul dari hasil penelitian ilmiah. Melalui metode ilmiah yang telah baku sesuai dengan sifat dasar dari masing-masing ilmu dihasilkanlah teori ilmiah yang telah teruji kebenarannya. Setiapilmu secara tergas menetapkan jenis objek secara ketat, apakah objek itu bersifat abstrak atau konkret sesuai dengan sikap ontologis yang mendasarinya serta menetapkan langkah ilmiah sesuai dengan objek khas yang dihadapi. Kebenaran ilmiah walaupun bersifat universal tetapi juga relatif karena sifat kebenaran ilmiah itu merupakan terminal. Artinya jika satu saat dihasilkan penemuan baru atau teori baru, maka teori lama telah dianggap gugur. Dengan demikian kebenaran ilmiah juga dihadapkan pada prospek ilmu. Bahwa setiap ilmu selain untuk mencapai kebenaran objektif, juga selalu memperhitungkan masa depan. Perhitungannya adalah tentang kemungkinan yang akan terjadi yang berupa perkembangan, baik berupa penyempurnaan maupun melengkapi teori yang sudah ada, bahkan mungkin mengganti dengan teori yang baru sama sekali.

Bahan Bacaan

A.M. Heru Basuki. 2006. Penelitian Kualitatif untuk Ilmu-ilmu Kemanusiaan dan Budaya.

Budisutrisna, 2006. Teori Kebenaran Pancasila sebagai Dasar Pengembangan Ilmu. Jurnal Filsafat. Vol. 16 Nomor , April 2006. Yogyakarta : Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada.

C.A. Van Peursen (1985). Susunan Ilmu Pengetahuan : Sebuah Pengantar Filsafat Ilmu. (diterjemahkan oleh : J. Drost). Jakarta : PT. Garmedia.

C. Verhaak dan R. Haryono Imam. 1989. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Jakarta : PT. Gramedia.

Cuk Ananta Wijaya, 2006. Ilmu dan Agama dalam Perspektif Filsafat Ilmu. Junal Filsafat. Vol. 16, Nomor 2, Agustus 2006.

Depdikbud, 1992. Kongres Kebudayaan 1991 : Kebudayaan Nasional : Kini dan di Masa Depan. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Direktoral Sejarah dan Nilai Tradisonal Proyek Penelitian Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Buadaya 1992/1993.

Djumransjah, 2006. Filsafat Pendidikan. Jatim : Bayumedia Publishing.

Geerts, Clifford, 1992. Tafsir Kebudayaan. Yogyakarta : Kanisius
.
Hempel, Carl G., 1996. Philosophy of Natural Science, Prentice-Hall Inc., New Jersey

Jalaluddin dan Abdullah Idi, 2007. Filsafat Pendidikan : Manusia, Filsafat dan Pendidikan. Yogyakarta : Ar-Ruzz Media Group.

Jujun S. Suriasumantri, 2009. Ilmu dalam Perspektif (sebuah kumpulan karangan tentang hakekat ilmu). Jakarta : Yayaran Obor Indonesia.

J. Sudarminta, 2010, Postmodernisme dan Komersialisasi Pendidikan Tinggi (Dua Tantangan Pendidikan Bagi Perguruan TinggiKatolik di Era Global) dapat diakses melalui http://www.aptik.or.id/artikel/postmodernisme-dan-komersialisasi-pendidikan-tinggi

Kemeny, John. G., 1959. A. Philosopher Looks at Science, Van Nostrand Reinhold Company, New York.

Nurani Soyomukti, 2010. Teori-teori Pendidikan : Tradisional, (Neo) Liberal, Marxis-Sosialis, Postmodern. Yogyakarta : Ar-Ruzz Media Group.
M. Sastrapratedja, SJ. 2011. Epistemologi Kultural. Bahan kuliah mata kuliah Epistemologi Program Doktor Ilmu Pendidikan Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta.

_________________. 2011. Sejarah Filsafat Kontemporer : Poststrukturalisme dan Postmodernisme. Bahan kuliah mata kuliah Epistemologi Program Doktor Ilmu Pendidikan Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta.

_________________. 2011. Postmodernismedan Multikulturalisme dalam Pendidikan. Bahan kuliah mata kuliah Epistemologi Program Doktor Ilmu Pendidikan Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta.

Paulus Wahana, 2010. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta : Pustaka Diamond.

Sutari Imam Barnadib, 1995. Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis. Yogyakarta : Andi Offset..

Sutari Imam Barnadib dan Imam Barnadib, 1996. Beberapa Aspek Substansial Ilmu Pendidikan Sistematis. Yogyakarta : Andi Offset.

Suparlan suhartono, 2005. Filsafat Ilmu Pengetahuan : Persoalan Eksistensi dan Hakekat Ilmu Pengetahuan, Yogyakarta : Ar-Ruzz Media Group.

Yohanes P. Wisok, 2009. Etika mengalami krisis, Membangun pendirian. Bandung : Jendelas Mas Pustaka.

1 komentar:

  1. Saya berhasil mendirikan bisnis restoran saya melalui bantuan Perusahaan Pinjaman Umum yang memberi saya pinjaman sebesar 350rb dengan tingkat pengembalian 3%, saya membayar setiap bulan, dan ini berjalan sangat baik dengan mereka.
    Siapa pun yang mencari pinjaman untuk memulai atau memperluas bisnis mereka harus menghubungi Mr pedroloanss@gmail.com atau nomor WhatsApp +1-863-231-0632 tentang cara mendaftar.
    Semoga beruntung.

    BalasHapus